6.16.2009

WISATA KANGEAN

Tammo Hidayat”"Kangean

Diutara pantai kangean tersebut,kalau sore banyak ikan lumba-lumba yang bermain,jarak dari pantai sekitar 400 meter,biasanya ikan lumba-lumba tersebut dapat dilihat sekitar jam 15 hinngga 18 sore.

Bukan hanya itu dipulau Mamburit,sekitar 500 meter sebelah barat kangean,menyimpan sejuta keindahan laut,mungkin satu-satunya pulau disumenep yang memiliki terumbuh karang yang sangat luas dan indah,namun pemda sumenep tutup mata dengan keindahan laut tersebut.

Padahal keindahan terumbu karang dipulau mamburit sudah masuk dalam daftar untuk dijadikan Taman Laut,namun hingga saat ini terbengkalai.Rencana tersebut sudah ada sejak tahun 2005.

Feri kepala bagian Tata ruang di DKP Pusat mengatakan kepada Tammo Hidayat wartawan media ini diruang kerjanya .Pulau tersebut sudah direncanakan untuk dijadikan Taman Laut terbesar di Asia,mengingat terumbu karang yang ada dipulau tersebut sangat luas dan indah,sehingga dapat mengundang wisatawan lokan dan mancanegara.

Masih Menurut Feri,Program sudah kami buat,bahkan sudah ada buku panduannya,tinggal bagaimana daerah tingkat I dan II melaksanakannya,kata Feri.

Bukan hanya itu yang dapat mengundang wisatawan,namun ada 3 titik tempat yang menarik,seperti Goa kuning,Dahulu kala Goa tersebut tempat bertapanya seorang putri cantik (Potre Koning) yang diduga kuat ibunda Joko Tole (Raja sumenep).

Goa Petteng,Goa ini sangat menyeramkan karena Goa Tersebut sangat Gelap,namun didalam Goa tersebut sangat menarik karena ada peralatan tidur lengkap dari batu.

Air Mancur alami.didesa Daandung Air mancur tumbuh secara alami,tanpa digerakkan memakai mesin,tempat tersebut cocok untuk dikelola dijadikan perusahan air,guna memenuhi konsomsi lokal,hingga saat ini belum dikelola.Bersambung

[+/-] Selengkapnya...

Studi Energi (KSE) Laboratorium Energi goes to Sapeken

Pada awal bulan September tepatnya pada tanggal 6 2006 kemarin, kelompok Studi Energi (KSE) Laboratorium Energi dan Pengkondisian Lingkungan Jurasan Teknik Fisika ITS Surabaya mengadakan kunjungan ke yang luasnya hanya 2.45 Km persegi yang berada pada jajaran kepulauan Kangean Kabupaten Sumenep Madura yaitu pulau Sapeken. Kalau dari Surabaya dapat ditempuh selama 21 jam dengan rincian 4 jam lewat jalur darat dari pelabuhan Kamal Madura naik bus sampai ke kota Sumenep. Baru kemudian naik Kapal sekitar 17 jam.

Kenapa dinamakan pulau Sapeken, kerena menurut cerita nenek moyang pualau tersebut yang mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan dengan bahasa keseharianya yaitu bahasa Bajo. Menceritakan bahwa dulu nenek moyang mereka terdampar kepulau tersebut dan tidak dapat keluar dari pualau tersebut selama satu pekan. Nah dari kata satu pekan itulah nama pulau itu diambil menjadi Sapeken yang artinya satu minggu. kalau orang madura menamakan Sepeka.

Karena nenek moyang tersebut dari sulawesi Selatan maka bahasa resmi keseharian yang digunakan yaitu bahasa Bajo. Sebenarnya plural sekari suku yang menempati pualau tersebut ada dari Makasar, Jawa, Madura, Sunda bahkan dari aceh pun ada. Kepadatan penduduk dipicu karena pulau sapeken sendiri berada pada letak yang stategis dengan dikelilingi pulau-pulau besar seperti pulau Kangean, Pulau Paliat, Pulau Pagerungan kecil dan Pagerungan Besar, pulau Saur dan pulau Sakala. Kalau anda tahu pulau Batam nah seperti itulah kedudukan pulau Sapeken. Walaupun luasnya kira-kira setengah ITS, pulau Sapeken mempunyai jumlah penduduk yang tinggi yaitu sekitar 12.600 jiwa. Bayangkan bagaimana kepadatan di pulau tersebut.

Sulit mengatakan keadaan ekonomi pulau tersebut. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelyan dan pedagang. Ditinjau dari segi bentuk rumah mayoritas berbentuk rumah panggung yang kelihatanya bisa dikatakan rumah yang sederhana sekali. Mereka membuat rumah panggung karena dulu pada waktu air laut pasang sampai masuk ke rumah penduduk. Kembali ke masalah ekonomi. Bila ditinjau dari segi kepemilikan isi perabotan rumah tanggah, mereka termasuk orang orang yang mampu. mayoritas mereka mempunayai TV 21 inc, kulkas, Hp yang minimal ada kameranya. Maklum mereka mudah mencari uang tinggal pergi melaut dapat ikan dijual sudah dapat pendapatan. Kalau uangnya masih banyak ya…pergi ke kota belanja. Umumnya mereka pergi ke kota Singaraja karena untuk perjalan hanya dapat ditempuh kira-kira 6 jam. Kalau tidak belanja ya..jadi pengangguran selama uangnya masih ada. Kalau kira-kira persediaan udah menipis mereka pergi ke laut lagi untuk mencari ikan. Itulah kebiasaan orang-orang Sapeken. Informasi ini kami peroleh dari pembicaraan langsung dengan penduduk Sapeken.

Pendidikan di pulau tersebut sangatlah memprihatinkan. Di Pulau Sapeken itu sendiri ada 5 SD, 1 SMP dan 1 SMU dan beberapa madrasah dan pondok Islam. Dengan keadaan bangunan sekolah dasar reot, sudah banyak atap SD yang sudah roboh dan bangunan yang dindingnya banyak yang terkelupas, serta minim buku-buku pelajaran dan guru pengajar. Ketika kami berkunjung ke sebuah SMU dan satu-satunya yang ada di kecamatan Sapeken, dengan nama SMU negeri 1 Sapeken dengan terdiri 6 ruang kelas 2 diantarnya tidak ada meja dan kursi. Rombongan kami diterima oleh Wakil kepala sekolah dan beberapa guru dan petugas tata uasaha di sekolah itu. Sedangkan pada waktu itu kepala sekolah sedang tidak ada ditempat. Kebanyakan guru yang kami wawancarai di SMU tersebut memaparkan mengeluh akan sistem pendidikan di sekolah tersebut. merkea mengatakan banyak guru yang memegang beberapa mata pelajaran seperti mata pelajaran fisika dan matematika dipegang oleh 1 guru lantaran tidak ada guru matematika di SMU tersebut dan banyak guru yang berperan ganda sebagai petugas tatausah sekolah atau petugas TU. Mereka juga mengatakan apabila pada waktu mata pelajaran tidak ada gurunya yang menangani maka mata pelajaran tersebut dilompati alias langsung ke pelajaran berikutnya, maklum guru di SMU tersebut minim sekali. Jadi siswa-siwa di SMU tersebut dapat pulag lebih awal, jam 12.00 merupakan jam paling lama dalam proses belajar mengajar. Kami terheran-heran ketika memasuki sekolah tersebut kok siswanya pada keluar ini gurunya dimana pada hal pada waktu itu jam-jam pelajaran begitulah kesan pertama yang kami lihat. Selain itu dari segi orang tua wali murid tidak menghiraukan pendidikan anak-anaknya karena orientasi dan pola pikir mereka kalau anknya sudah besar ya jadi nelayan. Itulah gambaran yang pendidikan di pulau Sapeken yang termasuk dalam propinsi JAWA TIMUR.

Sebenarnya pulau Sapeken merupkan pulau yang sngat indah karena kaya kekayaan alam lautnya serta jernih airnya lautnya. Tujuan kami berkunjung ke peulau tersebut sebenarnya bukan karena untuk melihat pola hidup penduduk di pulau tersebut akan tetati dalam rangka penelitian dan penerapan ilmu pengetahuan pada penduduk setempat. Pada tanggal 22 September 2006 team KSE TF-ITS menggalkan palau tersebut dengan menyimpan segudang memori yang tak terlupakan.

dipost dari : http://madura.blogdetik.com/category/laporan-reports/

[+/-] Selengkapnya...

Potret Hitam Kelistrikan Kita

Oleh : Em Lukman Hakim, Anggota BP JATAM dan dosen di Unija Madura

Absennya tanggungjawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik warganya tidak saja terjadi di sekitar blok migas Kangean, tetapi merata di seluruh lokasi pertambangan. Ini setidaknya dapat dilihat dari membeludaknya daftar tunggu PT PLN.

SAAT diguncang krisis listrik, pemerintah kelimpungan menyiapkan jurus penanggulangan. Mulai kebijakan tarif insentif dan disinsentif, penerapan tarif dayamax plus, pemadaman bergilir, penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) bagi pengguna 1300 Voltampere (Va), dan sederet kampanye hemat energi.

Di balik itu, ada komunitas masyarakat yang tak terusik dengan seabrek persoalan tadi. Mereka hidup dengan caranya yang khas, terkesan acuh, sekalipun pemerintah tidak menyertakan penurunan tarif dasar listrik-TDL, dalam daftar penurunan harga, yang diumumkan 12 Januari 2009. Mereka adalah komunitas masyarakat yang selama ini hidup di sekitar eksploitasi tambang minyak, gas, dan batu bara.

Potret hitam kelistrikan lingkar tambang ini telah mengakrabi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar blok migas Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Padahal, sejak 1982 silih berganti perusahaan migas beroperasi di kawasan ini, seperti Arco Bali North Indonesia, Beyond Petrolium, Amoco, Medco, EMP Kangean, dan Kangaiyan Energi Indonesia.

Namun kehidupan masyarakatnya masih saja tak berubah. Mereka hanya bisa menikmati listrik-menggunakan genset, dari pukul 17.00-07.00 WIB, itupun terbatas di daerah ibu kota Kecamatan seperti Kecamatan Kangaiyan, Arjasa, dan Sapeken. Sementara di desa kepulauan yang kaya migas seperti Pagerungan kecil, Saor, Spanjang, dan Paliat, hingga kini tak merasakan terangnya listrik.

Derita Vs Keuntungan
Derita masyarakat itu berbanding terbalik dengan keuntungan perusahaan migas yang beroperasi di blok Kangean. Mereka mampu membangun fasilitas pengelola gas berkapasitas 2×175 juta kaki kubik gas alam per/hari di Pagerungan Besar. Sarana penyimpanan kondensat (Single Point Mooring System) berkapasitas 125.000 ton dwt lengkap dengan 2,5 Km sistem pipa pemuat pipanisasi ladang gas Pagerungan sistem.

Beberapa infrastruktur pendukung yang telah dibangun di kawasan separuh lebih dari total luas pulau itu antara lain paviliun mewah, pangkalan kapal terbang, jalan, dan berbagai kebutuhan bagi perusahaan raksasa migas yang menggunakan listrik ribuan kilo watt.

Absennya tanggungjawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik warganya tidak saja terjadi di sekitar blok migas Kangean, tetapi merata di seluruh lokasi pertambangan. Ini setidaknya dapat dilihat dari membeludaknya daftar tunggu PT PLN.

Tahun 2007 saja di Sumatra Utara tercatat 75.531 daftar tunggu, Sumatra Barat 30.429, Riau 103.192, Sumatra Selatan 100.933, Kalimantan Barat 45.202 Kalimantan Selatan 120.589, Kalimantan Timur 22.086, Jawa Barat 387.864, sementara Jawa Timur 207.918. Membeludaknya daftar tunggu itu belum termasuk warga yang selama ini belum pernah mendaftar.

Ketiadaan pemenuhan listrik masyarakat lingkar tambang sejatinya tidak dapat diterima. Pertama, kehidupan masyarakat lingkar migas blok Kangean jauh untuk dapat disebut adil. Padahal sejak 1991, PT EMP Kangean telah memasok kebutuhan tiga pembangkit listrik di Jatim, yakni PGN Porong, PLTGU Grati, dan Petro Kimia Gresik. Ini menyiratkan orientasi pembangunan yang tersentral di pusat perkotaaan.

Kedua, keadilan penggunaan produksi energi. Sekalipun Indonesia memiliki 199 blok wilayah kerja migas aktif dan 66 cekungan potensial dengan cadangan migas relatif tinggi (86,9 miliar barel & 384,7 TSCF) serta produksi batubara yang mencapai 234 juta ton pada 2008 atau naik 8,84 persen dibanding produksi di tahun 2007 yang hanya 215 juta ton.

Alih-alih menjamin kedaulatan energi nasional, Indonesia terjerembab dalam krisis energi tak bertepi. Fakta ini menunjukkan, pemerintah tak sanggup mencegah ekspor migas dan batu bara ke laur negeri. Hingga kini tercatat 85 persen produksi migas dan 73 persen produksi batubara dipasok untuk kebutuhan ekspor, sementara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri hanya disisakan 15 persen migas dan 27 persen batubara.

Ketiga, PT PLN sejatinya telah memprediksi kenaikan konsumsi listrik Tahun 2009 sebesar 106,641 GWh dengan beban puncak 122, 295 MW. Tahun 2010 diperkirakan menjadi 114.106 GWh dan beban puncak 130.855 MW–RUPTL PTPLN 2006-2015. Ironisnya pemerintah sama sekali tak melakukan langkah preventif untuk memastikan kebutuhan domestik. Padahal hingga kini, sumber energi listrik masih didominasi energi fosil.

Solusi Pendek
Peristiwa PLTU Kalsel beberapa waktu lalu yang sempat terhenti beroperasi akibat kekurangan pasokan batu bara, dan terpaksa memenuhinya dengan cara membeli dari Sumatra, tidak dapat dicerna dengan akal sehat, mengingat lebih dari 450 izin pertambangan baru telah dikeluarkan pemerintahan setempat.

Usut punya usut, PLTU itu membutuhkan batu bara dengan 5000 kalori, sementara perusahaan pertambangan batu bara yang beroperasi menghasilkan batubara dengan kalori 7000 ke atas. Lagi-lagi kebutuhan ekspor ditempatkan di atas pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Cerita ini menyiratkan makin mengerutnya kesanggupan pemerintah dalam menjamin kedaulatan energi nasional. Padahal, kebutuhan migas nasional hanya 1.084.000 barel per/hari dan kebutuhan batubara nasional hanya berkisar 40 juta-45 juta ton per tahun. Ini sudah meliputi keseluruhan kebutuhan untuk PLTU, pabrik semen, serta industri lainnya. Bandingkan dengan tingkat produksi migas dan batu bara sebagaimana data sebelumnya.

Pada situasi inilah penting untuk mengkaji kembali pengelolaan energi nasional (PEN) dan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang sama sekali belum menempatkan kedaulatan energi sebagai suatu prioritas. Tanpa itu masyarakat lingkar tambang akan terus diselimuti kegelapan, dan tak akan pernah dapat mengecap, sebagaimana visi PLN, listrik untuk kehidupan yang lebih baik.

Dimuat di Harian Surya, Sabtu, 24 Januari 2009

[+/-] Selengkapnya...

SAPEKEN MENCARI INDONESIA

(Sebuah Renungan Ringan Dari Rantau)

Oleh Rahmatul Ummah

(Alumni dan Pendiri HIMAS, Sedang Kuliah S2 di Universitas Lampung)

sapeken

Sontak Indonesia geger, karena isu penjualan beberapa pulau-pulau dalam wilayah NKRI beberapa waktu yang lalu. Perhatianpun tertuju ke pulau-pulau yang dulunya nyaris tidak pernah mendapat perhatian itu. Sebutlah salah satunya pulau Sitabbok di Kecamatan Sapeken.

Akan tetapi, tulisan ini sengaja tidak akan mengupas lebih dalam masalah penjualan pulau tersebut, biarlah itu menjadi persoalan dan kewenangan aparat yang memiliki tugas menjaga kedaulatan bangsa ini. Penulis hanya akan memulai tulisan ini dari pertanyaan apa yang sudah pernah kita pikirkan tentang masyarakat pulau Sitabbok selain dari isu penjualan pulau tersebut? Pernahkah kita berfikir tentang kondisi kesejahteraan masyarakatnya? Pernahkah kita berfikir tentang pembangunan SDMnya? Tahukah kita bahwa di sana sama sekali tidak ada institusi Pendidikan? Bagaimana mereka bertahan untuk hidup dan berada dalam kondisi yang tetap sehat tanpa obat-obatan dan tenaga kesehatan?

Ada banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan pertanyaan itu ingin menggugah Indonesia untuk kembali lebih peduli terhadap warga Negara yang terisolir dan terpencil. Mungkin terlalu kecil untuk membicarakan pulau Sitabbok, tapi marilah kita melihat kondisi riil dari masyarakat Kepulauan setelah kasus-kasus ini.

Secara administratif pulau Sitabbok berada di kecamatan Sapeken yang merupakan salah satu kecamatan di Kepulauan Kangean yang termasuk dalam kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Sapeken terdiri dari sembilan Desa yang terdiri dari lima puluh dua pulau termasuk yang tidak berpenghuni.

Jika mau menilai secara obyektif, Kecamatan Sapeken telah mendapat perlakuan diskriminatif sejak kemerdekaan Republik ini, hal itu ditunjukkan dengan tidak adanya perhatian yang serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten Sumenep. Padahal eksploitasi sumber daya alamnya telah dilakukan sejak tahun 1960-an sampai sekarang. Hasil pertambangan berupa gas bumi telah di mulai sejak tahun 1960 di pulau Saur, dan selanjutnya sampai sekarang dilanjutkan kembali di Pagerungan Besar, Pangerungan Kecil, Sadulang dan Pulau Sepanjang. Jumlah produksi gas alam Pagerungan (menurut data Pertamina) Gas Production = 350.000.000 MSCF (Million Standart Cubic Feet) per hari. Yang disalurkan melalui pipa bawah laut sepanjang 450 km menuju Porong (sebagai home base). Dari home base ini kebutuhan gas alam dipasok antara lain untuk memenuhi kebutuhan di Petro Kimia; Perusahaan Gas Negara dan PT. PJB Unit Pembangkit Listrik, Nilai produksi = total Indonesia Share (bruto) $83.558.000/9 bulan (Januari s/d september) atau sekitar Rp. 781.267.300.000,- (pada tahun 2004). Ini belum ditambah hitungan hasil eksploitasi gas alam di Pulau Sepanjang.

Sebagai penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar kepada daerah kabupaten Sumenep, mestinya pembangunan di kecamatan Sapeken jauh lebih maju. Namun, kenyataan yang sebenarnya hampir di luar nalar sehat kita, tingkat buta huruf di kepulauan kecamatan Sapeken hampir mencapai angka 20%, yang tersebar di beberapa pulau, seperti Sabuntan, Sakala, Sitabbok, Paliat, Saur, Saibus, Sepanjang dan beberapa pulau lain, angka lulusan SD mencapai 72,55%, dan lulusan SMP hanya sebesar 5,66% dan SMU sebesar 1,77% dan Perguruan Tinggi hanya mencapai 0,02%. Dan untuk pelayanan kesehatan masyarakat, pemerintah hanya menyediakan satu tenaga dokter pada tahun 2005 untuk jumlah penduduk yang hampir mencapai 45 ribu jiwa, yang sebelumnya hanya seorang mantri, sehingga kebutuhuan terhadap pelayanan kesehatan yang layak tidak terpenuhi, dan angka kematian ibu dan bayi dari tahun ke tahun tetap stabil dalam angka yang besar, karena hanya mengandalkan tenaga dukun bayi.

Diperparah oleh pelayanan publik yang lain, yang hampir seluruh tenaga yang diperbantukan untuk bertugas melayani masyarakat kecamatan Sapeken adalah orang-orang jauh, berasal dari daratan Jawa dan Madura, sehingga beresiko paling tinggi untuk tidak masuk kerja dan makan gaji buta.

Kenyataan itu bisa dibuktikan pada kantor UPTD Pendidikan dan UPTD Kelautan dan Perikanan, bahkan penulis sampai sekarang tidak sempat mengenal siapa yang bertugas sebagai Kepala Kantor Pelabuhan Sapeken.

Dan yang paling menyedihkan adalah puluhan guru yang bertugas dikepulauanpun lebih banyak liburnya, sehingga terpaksa beberapa sekolah harus meliburkan muridnya, bahkan di tengah tuntutan sertifikasi guru, masih ada sekolah di kepulauan kecamatan Sapeken yang tenaga pengajarnya adalah lulusan SD tersebut, karena terbatasnya tenaga pengajar, lihatlah misalnya di SDN VIII di pulau Saur.

Jarak tempuh dari daratan Sumenep yang memakan waktu hingga 24 jam, dan transportasi tersedia hanya dua kali perjalanan persepuluh hari menuju Sapeken, adalah salah satu alasan tidak efisien dan efektifnya kinerja pelayanan publik oleh pemerintah daerah Kabupaten Sumenep. Namun, persoalan yang sudah akut ini tidak kunjung mendapat penyelesaian yang baik. Sapeken seolah kehilangan tempat untuk mengadu.

Selain persoalan kinerja pelayanan publik, ancaman paling serius yang dihadapi masyarakat Sapeken adalah pengrusakan terumbu karang dan komunitas biota laut lainnya oleh nelayan liar yang berasal dari luar daerah Sapeken (atau pemilik modal di Sapeken “yang gila”), masyarakat Sapeken seolah tidak berdaya menghadapi ancaman itu, karena rata-rata nelayan yang datang itu dilengkapi dengan alat-alat yang canggih.

Apa yang penulis paparkan di atas, adalah jeritan hati masyarakat kepulauan, yang hari ini tidak mengenal Indonesia dan bisa jadi sudah tidak pernah punya keinginan lagi untuk kenal Indonesia. Mungkin, Indonesiapun hari ini baru mau berkenalan dengan pulau Sitabbok Kecamatan Sapeken, karena pertaruhan nilai nasionalisme. Nasionalisme yang sudah lama tercerabut dari hati elit bangsa ini, karena tidak pernah bisa merasakan keperihan hati masyarakat kepulauan yang terpencil dan terisolir. Dan mungkin Sapeken hanyalah salah satu pulau yang mengalami diskriminatif pembangunan itu. Wallahu’alam

Permalink: http://arsip-himas.blogspot.com/2008/03/artikel-menggugah.html

Image: http://dkp.sumenep.go.id/includes/map/ad…

[+/-] Selengkapnya...

 
::: PUTRA KANGEAN ::: © 2007 Template feito por Templates para Você