Pages

6.06.2008

Sastra Indonesia

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

  • Pujangga Lama

  • Sastra "Melayu Lama"

  • Angkatan Balai Pustaka

  • Pujangga Baru

  • Angkatan '45

  • Angkatan 50-an

  • Angkatan 66-70-an

  • Dasawarsa 80-an

  • Angkatan Reformasi

Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar, yaitu:

  • lisan

  • tulisan

Pujangga Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.

Karya Sastra Pujangga Lama

  • Sejarah Melayu

  • Hikayat Abdullah - Hikayat Andaken Penurat - Hikayat Bayan Budiman - Hikayat Djahidin - Hikayat Hang Tuah - Hikayat Kadirun - Hikayat Kalila dan Damina - Hikayat Masydulhak - Hikayat Pandja Tanderan - Hikayat Putri Djohar Manikam - Hikayat Tjendera Hasan - - Tsahibul Hikayat

  • Syair Bidasari - Syair Ken Tambuhan - Syair Raja Mambang Jauhari - Syair Raja Siak

  • dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan Syair lainnya

Sastra "Melayu Lama"

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya", Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra "Melayu Lama"

  • Robinson Crusoe (terjemahan)

  • Lawan-lawan Merah

  • Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)

  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)

  • Kapten Flamberger (terjemahan)

  • Rocambole (terjemahan)

  • Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)

  • Bunga Rampai oleh A.F van Dewall

  • Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe

  • Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan

  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya

  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)

  • Cerita Nyi Paina

  • Cerita Nyai Sarikem

  • Cerita Nyonya Kong Hong Nio

  • Nona Leonie

  • Warna Sari Melayu oleh Kat S.J

  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan

  • Cerita Rossina

  • Nyai Isah oleh F. Wiggers

  • Drama Raden Bei Surioretno

  • Syair Java Bank Dirampok

  • Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang

  • Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen

  • Tambahsia

  • Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo

  • Nyai Permana

  • Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)

  • dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Angkatan Balai Pustaka

Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.

Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka

  • Merari Siregar

    • Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)

    • Binasa kerna gadis Priangan! (1931)

    • Tjinta dan Hawa Nafsu

  • Marah Roesli

    • Siti Nurbaya

    • La Hami

    • Anak dan Kemenakan

  • Nur Sutan Iskandar

    • Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan

    • Hulubalang Raja (1961)

    • Karena Mentua (1978)

    • Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

  • Abdul Muis

    • Pertemuan Djodoh (1964)

    • Salah Asuhan

    • Surapati (1950)

  • Tulis Sutan Sati

    • Sengsara Membawa Nikmat (1928)

    • Tak Disangka

    • Tak Membalas Guna

    • Memutuskan Pertalian (1978)

  • Aman Datuk Madjoindo

    • Menebus Dosa (1964)

    • Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)

    • Sampaikan Salamku Kepadanya

  • Suman Hs.

    • Kasih Ta' Terlarai (1961)

    • Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)

    • Pertjobaan Setia (1940)

  • Adinegoro

    • Darah Muda

    • Asmara Jaya

  • Sutan Takdir Alisjahbana

    • Tak Putus Dirundung Malang

    • Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)

    • Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

  • Hamka

    • Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)

    • Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)

    • Tuan Direktur (1950)

    • Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

  • Anak Agung Pandji Tisna

    • Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)

    • Sukreni Gadis Bali (1965)

    • I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)

  • Said Daeng Muntu

    • Pembalasan

    • Karena Kerendahan Boedi (1941)

  • Marius Ramis Dayoh

    • Pahlawan Minahasa (1957)

    • Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.

Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.

Pada masa itu, terbit pula majalah "Poedjangga Baroe" yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan karya sastra Pujangga Baru

  • Sutan Takdir Alisjahbana

    • Layar Terkembang (1948)

    • Tebaran Mega (1963)

  • Armijn Pane

    • Belenggu (1954)

    • Jiwa Berjiwa

    • Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)

    • Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)

    • Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)

  • Tengku Amir Hamzah

    • Nyanyi Sunyi (1954)

    • Buah Rindu (1950)

    • Setanggi Timur (1939)

  • Sanusi Pane

    • Pancaran Cinta (1926)

    • Puspa Mega (1971)

    • Madah Kelana (1931/1978)

    • Sandhyakala ning Majapahit (1971)

    • Kertadjaja (1971)

  • Muhammad Yamin

    • Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)

    • Kalau Dewi Tara Sudah Berkata

    • Ken Arok dan Ken Dedes (1951)

    • Tanah Air

  • Roestam Effendi

    • Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan (1953)

    • Pertjikan Permenungan (1953)

  • Selasih

    • Kalau Ta' Oentoeng (1933)

    • Pengaruh Keadaan (1957)

  • J.E.Tatengkeng

    • Rindoe Dendam (1934)

Angkatan '45

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik.

Penulis dan karya sastra Angkatan '45

  • Chairil Anwar

    • Kerikil Tadjam (1949)

    • Deru Tjampur Debu (1949)

  • Asrul Sani, Rivai Apin Chairil Anwar

    • Tiga Menguak Takdir (1950)

  • Idrus

    • Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)

    • Aki (1949)

    • Perempuan dan Kebangsaan

  • Pramoedya Ananta Toer

    • Bukan Pasar Malam (1951)

    • Ditepi Kali Bekasi (1951)

    • Gadis Pantai

    • Keluarga Gerilja (1951)

    • Mereka jang Dilumpuhkan (1951)

    • Perburuan (1950)

    • Tjerita dari Blora (1963)

  • Mochtar Lubis

    • Tidak Ada Esok (1982)

    • Djalan Tak Ada Udjung (1958)

    • Si Djamal (1964)

  • Achdiat K. Mihardja

    • Atheis - 1958

  • Trisno Sumardjo

    • Katahati dan Perbuatan (1952)

    • Terjemahan karya W. Shakespeare: Hamlet, Impian di tengah Musim, Macbeth, Raja Lear, Romeo dan Julia, Saudagar Venezia, dll.

  • M.Balfas

    • Lingkaran-lingkaran Retak, kumpulan cerpen (1978)

  • Utuy Tatang Sontani

    • Suling (1948)

    • Tambera (1952)

    • Awal dan Mira - drama satu babak (1962)

Angkatan 50-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan karya sastra Angkatan 50-60-an

Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

  • Ali Akbar Navis

    • Bianglala: kumpulan tjerita pendek (1963)

    • Hudjan Panas (1963)

    • Robohnja Surau Kami: 8 tjerita pendek pilihan (1950)

  • Bokor Hutasuhut

    • Datang Malam (1963)

  • Enday Rasidin

    • Surat Cinta

  • Nh. Dini

    • Dua Dunia (1950)

    • Hati jang Damai (1960)

  • Nugroho Notosusanto

    • Hujan Kepagian (1958)

    • Rasa Sajangé (1961)

    • Tiga Kota (1959)

  • Ramadhan K.H

    • Api dan Si Rangka

    • Priangan si Djelita (1956)

  • Sitor Situmorang

    • Dalam Sadjak (1950)

    • Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)

    • Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)

    • Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)

    • Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

  • Subagio Sastrowardojo

    • Simphoni (1957)

  • Titis Basino

    • Pelabuhan Hati (1978)

    • Dia, Hotel, Surat Keputusan (cerpen) (1963)

    • Lesbian (1976)

    • Bukan Rumahku (1976)

    • Pelabuhan Hati (1978)

    • Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)

    • Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997); Menyucikan Perselingkuhan (1998)

    • Aku Supiah Istri Wardian (1998)

    • Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)

    • Terjalnya Gunung Batu (1998)

    • Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)

    • Rumah Kaki Seribu (1998)

    • Tangan-Tangan Kehidupan (1999)

    • Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)

    • Mawar Hitam Milik Laras (1999)

  • Toto Sudarto Bachtiar

    • Suara : kumpulan sadjak 1950-1955 (1962)

    • Etsa, sadjak-sadjak (1958)

  • Trisnojuwono

    • Angin Laut (1958)

    • Dimedan Perang (1962)

    • Laki-laki dan Mesiu (1951)

  • W.S. Rendra

    • Balada Orang² Tertjinta (1957)

    • Empat Kumpulan Sajak (1961)

    • Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)

  • dan banyak lagi karya sastra lainnya

Angkatan 66-70-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dll pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalah-pahaman; ia lahir mendahului jamannya.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.

Karya Sastra Angkatan '66

  • Sutardji Calzoum Bachri

    • O

    • Amuk

    • Kapak

  • Abdul Hadi WM

    • Laut Belum Pasang – (kumpulan puisi)

    • Meditasi – (kumpulan puisi)

    • Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur – (kumpulan puisi)

    • Tergantung Pada Angin – (kumpulan puisi)

    • Anak Laut Anak Angin – (kumpulan puisi)

  • Sapardi Djoko Damono

    • Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)

    • Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)

    • Perahu Kertas – (kumpulan puisi)

    • Sihir Hujan – (kumpulan puisi)

    • Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)

    • Arloji – (kumpulan puisi)

    • Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)

  • Goenawan Mohamad

    • Interlude

    • Parikesit

    • Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)

    • Asmaradana

    • Misalkan Kita di Sarajevo

  • Umar Kayam

    • Seribu Kunang-kunang di Manhattan

    • Sri Sumarah dan Bawuk – (kumpulan cerita pendek)

    • Lebaran di Karet, di Karet - (kumpulan cerita pendek)

    • Pada Suatu Saat di Bandar Sangging -

    • Kelir Tanpa Batas

    • Para Priyayi

    • Jalan Menikung

  • Danarto

    • Godlob

    • Adam Makrifat

    • Berhala

  • Putu Wijaya

    • Telegram

    • Stasiun

    • Pabrik

    • Gres – Putu Wijaya

    • Bom

    • Aduh – (drama)

    • Edan – (drama)

    • Dag Dig Dug – (drama)

  • Iwan Simatupang

    • Ziarah

    • Kering

    • Merahnya Merah

    • Koong

    • RT Nol / RW Nol – (drama)

    • Tegak Lurus Dengan Langit

  • Arifin C. Noer

    • Tengul – (drama)

    • Sumur Tanpa Dasar – (drama)

    • Kapai Kapai – (drama)

  • Djamil Suherman

    • Sarip Tambak-Oso

    • Umi Kulsum – (kumpulan cerita pendek)

    • Perjalanan ke Akhirat

    • Sakerah

dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dasawarsa 80-an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi.

Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an

Antara lain adalah:

  • Badai Pasti Berlalu - Cintaku di Kampus Biru - Sajak Sikat Gigi - Arjuna Mencari Cinta - Manusia Kamar - Karmila

Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih "berat".

Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.

Sastrawan Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Sastrawan Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki 'juru bicara', Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Herliany.

  • Abidah el Khalieqy

  • Afrizal Malna

  • Ahmad Nurullah

  • Ahmad Syubanuddin Alwy

  • Ahmadun Yosi Herfanda adalah salah seorang penyair yang dimasukkan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam Angkatan 2000, tapi ia sebenarnya telah banyak menulis sajak sejak awal 1980-an.

  • Ayu Utami dengan karyanya Saman, sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung, lanjutan dari cerita Saman.

  • Dorothea Rosa Herliany

  • Seno Gumira Ajidarma

Cybersastra

Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (internet)baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya

Source : Wikipedia

0 komentar:

Poskan Komentar